What is Subud?

whatis

Meskipun Subud bersumber pada pengalaman-pengalaman dalam bidang keagamaan, Subud sendiri bukanlah agama atau ajaran. Subud merupakan pengakuan terhadap kekuasaan Tuhan, yang meliputi dan menguasai seluruh alam raya, baik yang kasatmata maupun yang gaib. Subud juga merupakan pengalaman tentang faal kekuasaan Tuhan di dalam kepribadian manusia. Di dalam Subud sama sekali tidak terdapat dogma atau pendeta. Tidak terdapat pula penguasa selain Tuhan Yang Maha Esa.

 

Berpadanan dengan ajaran semua agama besar, maka para anggota Subud berkeyakinan bahwa Tuhan tidak dapat tercapai oleh akal-pikiran manusia. Untuk itu kita hanya perlu berserah diri kepada-Nya dengan sabar, tawakal, dan ikhlas sambil memasrahkan kehendak pribadi kita kepada kehendak Tuhan. Subud tidak bersifat ketimur-timuran ataupun kebarat-baratan. Subud adalah milik umat manusia yang esa dalam menghadap ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.

 

Subud juga bukan sesuatu yang baru, karena hal-hal yang dialami di dalam Subud, yaitu pencurahan kemurahan Tuhan kepada manusia sesuai dengan kehendak-Nya, sama umurnya dengan sejarah manusia. Namun demikian, ada satu segi Subud yang boleh dikatakan baru, yaitu kenyataan bahwa baru kali ini kiranya curahan kemurahan Tuhan dapat diterima dengan semudah seperti sekarang.

 

Subud terbuka lebar pada tiap calon serius yang sudah berumur 17 tahun ke atas, tak peduli apa bangsa, warna kulit, kepercayaan, atau agamanya. Lazimnya para peminat wajib menjalankan masa percobaan selama tiga bulan setelah mengajukan aplikasinya. Bila, setelah menunggu tiga bulan, seorang calon masih bertekad masuk Subud, maka biasanya ia dibenarkan mulai berlatih.

 

Ribuan, bahkan laksaan, orang telah masuk Subud, lantas pergi begitu saja. Bahwa Subud mudah diberikan kepada siapa saja yang bersedia menerimanya tidak berarti bahwa jalan Subud selalu mudah ditempuh. Seorang anggota yang sedang mengalami pembersihan dan penyucian diri pribadi kadang-kadang dapat merasa tidak enak badan dan sebagainya. Oleh karena itu, kami tidak menjanjikan apa-apa. Dalam bidang kerohanian tidak ada paksaan. Maka, kepada mereka yang merasa tertarik kepada Subud, kami hanya mengatakan: Datang saja, buktikan sendiri.

 

 

ENGLISH

Although it is based upon a religious experience, Subud is not in itself a religion, nor is it a teaching. It is an acknowledgement of the Power of God which fills and controls the whole universe, both that which can be seen and that which is invisible to our ordinary sight, and it is also the experience of this power at work within each individual.

 

There is no dogma in Subud, no creed and no priesthood. Neither is there a leader other than the One Almighty God. In common with the great religions of the world, its members hold that God cannot be comprehended by the mind of man. All that is required of us is that we should, in patience and sincerity, surrender and submit our own will to the Will of God.

 

Subud is neither of the East nor the West, but is of all mankind, one humanity facing One Almighty God. It is not new for the experience is as old as humanity, the Grace of God bestowed upon human beings according to His Will; but there is something new in it, for this appears to be the first time in human history that it has been made so easy for mankind to receive it.

 

Subud is open to any sincere individual over the age of seventeen, without regard to race, colour, creed, religion, etc. Those who wish to join are generally asked to wait for a period of three months after they first apply, and if at the end of that time they are still of the same mind, then usually they can start.

 

Many thousands have come to Subud and some have gone away again. It is a gift freely given, but this does not necessarily make it an easy path to follow. Purification and sanctification may not always be completely comfortable. Subud makes no claims, and in spiritual matters there is no compulsion, but to those who feel drawn to it we simply say, come — and see for yourself.

 

-

 

Excerpts from “A First Introduction to Subud” by Roseanna Sawrey-Cookson London England, circa 1966 and Canberra Australia, 1995